Sunday, March 13, 2011

Quran Tulisan Tangan Dari Empayar Uthmaniyyah (Ottoman) 1276 Hijrah (1859 Masihi)










Quran antik ini sangat indah hiasan iluminasi serta tulisannya. Ianya bertulisan tangan dan lengkap 30 juzuk. Siap ditulis pada tahun 1276 Hijrah atau 1859 Masihi, kini ianya telah berusia lebih 152 tahun. Di bahagian akhir Quran ini tertera nama kaligrafer/penulisnya, Umar Redai serta tahun ianya dilengkapkan.

Quran ini berasal dari Timur Tengah dan ditulis semasa era Empayar Uthmaniyyah.

Terdapat 303 helaian dan 606 mukasurat, 604 daripadanya bertulis. Iluminasi warna emas menghiasi setiap mukasurat bertulis Quran ini manakala beberapa halaman dihiasi dengan iluminasi indah berwarna-warni.

Kondisi Quran ini adalah baik dan terpelihara di mana tulisan-tulisan di semua halaman masih dapat dibaca dengan jelas. Kulitnya masih kekal yang asli, dan terdapat bahagian yang bercat emas. Ukurannya pula agak kecil 18cm x 13.5cm.

(Nota: Quran ini telah dipindahmilik)

Quran Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun - Mushaf Nusantara












Quran ini bertulisan tangan dan lengkap 30 juzuk. Terdapat 6 mukasurat dengan hiasan berwarna - 2 mukasurat di bahagian permulaan, 2 di tengah-tengah dan 2 di bahagian akhir. Al-Quran ini berasal dari Indonesia dan dianggarkan berusia sekitar 200 tahun (awal kurun ke 19).

Kondisi Quran adalah baik dan terpelihara di mana kesemua 6,666 ayat di dalam 114 surah masih tertera dengan jelas di atas ratusan helai kertas tebal yang
wangi. Kulitnya yang asli sudah rosak dan digantikan dengan yang baru. 

Quran antik dan langka ini berukuran agak besar 31cm x 19cm. Terdapat 308 helaian dan 616 mukasurat (608 mukasurat bertulis) di dalam Quran ini.

Saturday, March 5, 2011

Quran Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun - Mushaf Nusantara















Quran ini bertulisan tangan dan lengkap 30 juzuk. Terdapat mukasurat dengan hiasan berwarna. Dianggarkan berusia 300 hingga 400 tahun berdasarkan jenis kertas yang digunakan - kertas 'daluang' ini banyak digunakan di pesantren-pesantren Indonesia sekitar kurun ke 17 (1600 - 1699 Masihi).

Kondisi Quran adalah usang setara usianya, tapi masih terpelihara dan kesemua 6,666 ayat di dalam 114 surah masih tertera dengan jelas dan dapat dibaca. Quran antik
dan langka ini berukuran agak besar 35cm x 23cm, serta mengandungi 273 helaian dan 546 mukasurat. Kulitnya yang asli sudah rosak dan digantikan dengan yang baru beberapa dekad lalu.

Quran ini pernah singgah di Kesultanan Brunei sekitar 1391 Hijrah atau 1971 Masihi, seperti yang dinotakan dengan tulisan jawi berdakwat merah di mukasurat akhir.

Quran Tulisan Tangan Berusia Ratusan Tahun - Mushaf Nusantara













Quran ini bertulisan tangan dan lengkap 30 juzuk. Terdapat mukasurat dengan hiasan berwarna. Dianggarkan berusia 300 hingga 400 tahun berdasarkan jenis kertas yang digunakan - kertas 'daluang' ini banyak digunakan di pesantren-pesantren Indonesia sekitar kurun ke 17 (1600 - 1699 Masihi).

Kondisi Quran adalah usang setara usianya, tapi masih terpelihara dan kesemua 6,666 ayat di dalam 114 surah masih jelas dan dapat dibaca. Terdapat 400 helaian dan 800 mukasurat di dalam Quran
yang berukuran 21.3cm x 16cm ini

Kulitnya masih yang asli dan tertera dengan inskripsi "la yamassahu illa al-mutaharrun".

Sedikit Tentang DALUANG

Daluang atau deluang adalah sejenis kertas yang dibuat dari bahan kulit kayu. Di Tatar Sunda, kulit kayu yang digunakan untuk bahan membuat deluang atau daluang adalah kulit kayu dari pohon saeh (Broussonetia papyfera vent). Itulah sebabnya, di kalangan orang Sunda, daluang lebih populer disebut kertas saeh. Pohon ini merupakan tumbuhan tingkat rendah. Ia masih termasuk ke dalam keluarga Moraceae.

Pembuatan deluang dari kulit kayu telah berlangsung lama dalam masyarakat nusantara, termasuk dalam masyarakat Sunda, paling tidak jauh ke belakang dari masa pra-Islam. Prinsip cara pembuatannya adalah kulit kayu dikelupas dari batangnya, kemudian dipukul berulang-ulang dengan alat pemukul khusus (pameupeuh) yang terbuat dari perunggu, dicuci, dan akhirnya dijemur.

Pada masa pra-Islam daluang dari kulit kayu itu digunakan untuk bahan pakaian, terutama pakaian khas para pemimpin agama (pendeta, wiku). Pada masa Hindu daluang digunakan untuk acara sakral, seperti dijadikan selendang dan ikat kepala perempuan, dan kertas suci pada upacara Ngaben. Daluang juga digunakan untuk kajang atau kain untuk jenazah di Bali. Hingga kini daluang masih digunakan di Bali.

Menurut Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, alm, pada abad ke-17 kertas daluang amat populer dalam dunia tulis menulis di nusantara. Daluang banyak dipakai di lingkungan pesantren dan kebutuhan administrasi pada pemerintahan lokal. Ini terjadi akibat faktor geografis Jawa Barat. ”Pohon lontar tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah Jawa, terutama di dataran tinggi yang berhawa dingin dan banyak turun hujan seperti kebanyakan daerah di Jawa Barat,”

Masih menurut Prof. Dr. Edi S. Ekadjati, alm, proses pembuatan kertas daluang ini tidak berdampak negatif bagi lingkungan. Pembuatannya sederhana dan bisa menciptakan sumber kehidupan bagi masyarakat kecil. Soal daya tahan, usia kertas ini terbukti lebih kuat ketimbang kertas pabrik. Tengok saja usia naskah-naskah sastra lama yang ada di museum saat ini. Kertas daluang juga mampu bertahan lebih dari 30 lipatan.

dipetik dari...